ANATOMI DAN DESAIN KURIKULUM
DASAR-DASAR PENGEMBANGAN KURIKULUM
![]() |
DISUSUN OLEH :
HIBATU N
WAFIROH NIM :229052
IDA
NURSEHAH NIM : 229055
MASRUROH NIM : 22906
M.ZAYIN
YUSUF NIM : 22906
INSTITUT ISLAM NAHDLATUL ULAMA’
(INISNU)
JEPARA
DAFTAR ISI
BAB II
PEMBAHASAN
ANATOMI DAN DESAIN KURIKULUM
Anatomi (berasal dari bahasa Yunani ἀνατομία anatomia, dari ἀνατέμνειν anatemnein, yang berarti memotong)
atau kemudian akan lebih tepat dalam pokok bahasan ini kita sebut atau kita
artikan dengan menggunakan arti struktur atau susunan atau juga bagian atau
komponen.
Desain biasa diterjemahkan sebagai seni
terapan, arsitektur, dan berbagai pencapaian kreatif lainnya. Dalam sebuah
kalimat, kata "desain" bisa digunakan baik sebagai kata benda maupun
kata kerja. Sebagai kata kerja, "desain" memiliki arti "proses
untuk membuat dan menciptakan obyek baru". Sebagai kata benda, "desain"
digunakan untuk menyebut hasil akhir dari sebuah proses kreatif, baik itu
berwujud sebuah rencana, proposal, atau berbentuk obyek nyata. Dalam kaitannya
hal ini di artikan sebagai proses daripada pelaksanaan atau penerapan model
kurkulum dalam dunia pendidikan.
Proses desain pada umumnya
memperhitungkan aspek fungsi, estetik dan berbagai macam aspek lainnya, yang
biasanya datanya didapatkan dari riset, pemikiran, brainstorming, maupun dari
desain yang sudah ada sebelumnya.
Kurikulum adalah perangkat mata
pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang
berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam
satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini
disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam
penyelenggaraan pendidikan tersebut.
Lama waktu dalam satu kurikulum
biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang
dilaksanakan. Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan
menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara
menyeluruh.
A. KOMPONEN-KOMPONEN KURIKULUM
Suatu kurikulum harus memiliki kesesuaian atau relevansi.
Kesesuaian ini meliputi dua hal. Pertama, kesesuaian antara kurikulum dengan
tuntutan kebutuhan, kondisi dan perkembangan masyarakat. Kedua, kesesuaian
antar komponen-kpmponen kurikulum, yaitu isi sesuai dengan tujuan,proses sesuai
dengan isi dan tujuan, demikian juga evaluasi sesuai dengan proses, isi dan
tujuan kurikulum.
Kurikulum dapat diumpamakan sebagai suatu organisme manusia
yang memiliki anatomi tertentu. Unsur atau komponen dari anatomi tubuh
kurikulum yang utama adalah tujuan, isi atau materi, proses atau system
penyampaian media, serta evaluasi. Keempat komponen tersebut berkaitan satu
sama lain.
1.
TUJUAN.
Dalam kurikulum atau pengajaran, tujuan memegang peranan
penting, akan mengarahkan semua kegiatan pengajaran dan mewarnai
komponen-komponen kurikulum lainnya. Tujuan kurikulum dirumuskan berdasarkan
dua hal. Pertama, perkembangan tuntutan, kebutuhan, dan kondisi masyarakat.
Kedua, didasari oleh pemikiran-pemikiran dan terarah pada pencapaian
nilai-nilai filosofis, terutama falsafah Negara. Kita mengenal beberapa
kategori tujuan pendidikan, yaitu tujuan umum dan khusus, jangka panjang,
menengah, dan jangka pendek.
Dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah 1975/1976
dikenal kategori tujuan sebagai berikut. Tujuan pendidikan nasional merupakan
tujuan jangka panjang, tujuan ideal pendidikan bangsa Indonesia. Tujuan
institusional, merupakan sasaran pendidikan suatu lembaga pendidikan. Tujuan
kurikuler adalah tujuan yang ingin di capai oleh suatu program study. Tujuan
instruksional yang merupakan target yang harus dicapai oleh suatu mata
pelajaran. Yang terakhir ini , masih dirinci lagi menjadi tujuan instruksional
umum dan khusus atau disebut juga objektif, yang merupakan tujuan pokok
bahasan. Tujuan pendidikan nasional yang berjangka panjang merupakan suatu
tujuan pendidikan umum, sedangkan tujuan instruksional yang berjangka waktu
cukup pendek merupakan tujuan yang bersifat khusus. Tujuan-tujuan khusus
dijabarkan dari sasaran-sasaran pendidikan yang bersifat umum yang biasanya
abstrak dan luas, menjadi sasaran khusus yang lebih konkret sempit dan terbatas.
Tujuan-tujuan mengajar dibedakan atas beberapa kategori,
sesuai dengan prilaku yang menjadi sasarannya. Gage dan Brigs mengemukakan tiga
kategori tujuan, yaitu Intlectual skills, Cognitive strategis, Verbal
information, Motor Skills, dan Attitudes. Bloom mengemukakan tiga kategori
tujuan mengajar sesuai dengan domain-domain prilaku individu, yaitu domain
kognitif, afektif, dan psikomotor. Domain kognitif berkenaan dengan penguasaan
kemampuan intlektual atau berpikir. Domain afektif berkenaan dengan penguasaan
dan pengembangan perasaan, sikap, minat dan nilai-nilai. Domain psikomotor
menyangkut penguasaan dan pengembangan keterampilan motorik.
Tujuan khusus mengajar juga memiliki tingkat kesukaran yang berbeda-beda. Bloom
membagi domain kognitif atas enam tingkatan dari yang paling rendah, yaitu
pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Untuk domain
afektif, Kratwohl membagi atas lima tingkatan yang berjenjang, yaitu menerima,
merespon, menilai, mengorganisasi nilai dan karakterisasi nilai-nilai. Untuk
domain psikomotor, Anita Harrow membaginya atas enam jenjang, yaitu gerakan
refleks, gerakan-gerakan dasar, kecakapan mengamati, kecakapan jasmaniah,
gerakan-gerakan keterampilan dan komunikasi yang berkesinambungan.
KEUNTUNGAN
Keuntungan perumusan tujuan mengajar yang berbentuk
khusus(objektif) adalah :
1.
Memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan mengajar kepada siswa.
2.
Membantu memudahkan guru-guru memilih dan menyusun bahan ajar.
3.
Memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media pembelajaran.
4.
Memudahkan guru mengadakan penilaian, menetukan bentuk tes, merumuskan butir
tes dan menentukan kriteria pencapaiannya.
KERUGIAN
Selain keuntungannya, terdapat pula beberapa kesulitan,
yaitu :
1.
Sukar menyusun tujuan-tujuan khusus untuk domain efektif.
2.
Sukar menyusun tujuan-tujuan khusus pada tingkat yang lebih tinggi.
Untuk mengatasi kedua kesukaran tersebut diperlukan
keahlian, latihan, dan pengalaman yang mencukupi dari guru-guru. Kekurangan
keahlian, latihan dan pengalaman akan membawa guru-guru pada perumusan tujuan
yang bertaraf rendah, yang mudah diukur. Kelemahan diatas akan menyebabkan
penyusunan tujuan khusus bersifat mekanistis, dengan jumlah tujuan yang sangat
banyak.
Para ahli mengemukakan bahwa tujuan khusus merupakan suatu
prilaku yang diperlihatkan siswa pada akhir suatu kegiatan belajar. Secara
spesifik, tujuan-tujuan mengajar khusus yaitu :
Menggambarkan
apa yang diharapkan dapat dilakukan oleh siswa, dengan:
1)
menggunakan kata-kata kerja yang menunjukan tingkah laku yang dapat diamati.
2)
menunjukan stimulus yang membuktikan tingkah laku siswa.
3)
memberikan pengkhususan tentang sumber-sumber yang dapat digunakan siswa dan
orang-orang yang dapat diajak bekerjasama.
Menunjukan
mutu tingkah laku yang diharapkan dilakukan oleh siswa dalam bentuk:
1)
ketepatan dan ketelitian respon.
2)
kecepatan, panjangnya dan frekuensi respon.
Mengambarkan
kondisi atau lingkungan yang menunjang tingkah laku siswa, berupa :
1)
kondisi atau lingkungan fisik,
2)
kondisi atau lingkungan psikologis.
2.
BAHAN AJAR
Seorang siswa belajar dalam bentuk interaksi dengan
lingkungannya, lingkungan orang-orang, alat-alat dan ide-ide. Tugas utama
seorang guru adalah menciptakan lingkungan tersebut, untuk mendorong siswa
melakukan interaksi yang produktif dan memberikan pengalaman belajar yang
dibutuhkan. Kegiatan dan lingkungan demikian dirancang dalam suatu rencana
mengajar, yang mencakup komponen-komponen : tujuan khusus, sekuensi bahan ajar,
strategi mengajar, media dan sumber belajar, serta evaluasi hasil mengajar.
3.
SEKUENS BAHAN AJAR
Bahan ajar tersusun atas topik-topik dan sub topik tertentu.
Tiap topik atau sub topik mengandung ide-ide pokok yang relevan dengan tujuan
yan telah ditetapkan. Topik-topik atau subtopik tersebut tersusun dalam sekuens
tertentu yang membentuk suatu sekuens bahan ajar.
Ada
beberapa cara untuk menyusun sekuens bahan ajar, yaitu:
1.
Sekuens kronologis.
Digunakan untuk menyususn bahan ajar berdasr urutan waktu.
Peristiwa sejarah, penemuan ilmiah dan perkembangan historis suatu instuisi.
2.
Sekuens kausal.
Berhubungan dengan situasi yang menjadi sebab atau pendahulu
dari suatu peristiwa atau situasi lain. Dengan mempelajari sesuatu yang menjadi
sebab, maka akan diproleh akibatnya.
3.
Sekuens struktural.
Suatu sekuens bahan ajar perlu disesuaikan dengan
strukturnya.
4.
Sekuens logis dan psikologis
Bahan ajar juga dapat disusun berdasarkan urutan logis.
Menurut sekuens logis bahan ajar, dimulai dari bagian menuju pada keseluruhan,
dari yang sederhana kepada yang kompleks. Tetapi menurut sekuens psikologis,
sebaliknya, dari keseluruhan kepada sebagian, dari yang kompleks kepada yang
sederhana.
5.
Sekuens spiral
Bahan ajar dipusatkan pada topik atau pokok bahan tertentu.
Dari topik atau pokok tersebut, bahan diperluas atau diperdalam. Topik atau
pokok bahan ajar tersebut adalah sesuatu yang populer dan sederhana, tetapi
kemudian diperluas dan dan diperdalam dengan bahan yang lebih kompleks.
6.
Rangkaian ke belakang.
Dalam sekuens ini, belajar dimulai dengan langkah terakhir
dan mundur kebelakang.
7.
Sekuens berdasar herarki belajar
Sekuens ini memiliki prosedur sebagai berikut: tujuan khusus
utama pemebelajaran dianalisis, kemudian dicari suatu herarki urutan bahan ajar
untuk mencapai tujuan tersebut. Herarki tersebut menggambarkan urutan perilaku
yang mula-mula harus dikuasai siswa, berturut-turut sampai dengan prilaku
terakhir.
8.
Strategi Mengajar
Penyusunan sekuens bahan ajar berhubungan erat dengan
strategi atau metode mengajar. Pada waktu guru menyusun sekuens suatu bahan
ajar, ia juga harus memikirkan strategi mengjar mana yang sesuai untuk
menyajikan bahan ajar dengan urutan seperti itu.
Ada
beberapa strategi yang dapat digunakan dalam mengajar yaitu :
1.
Reception/ Exposition Learning-Discovery Learning.
Reception dan Exposition sesungguhnya mempunyai makna yang
sama, hanya berbeda dalam pelakunya. Reception Learning dilihat dari sisi siswa
sedangkan Exposition dilihat dari sisi guru. Dalam exposition, keseluruhan
bahan ajar disampaikan kepada siswa dalam bentuk akhir atau bentuk jadi, baik
secara lisan maupun secara tertulis.
Dalam Discovery Learning, bahan ajar tidak disajikan dalam
bentuk akhir, siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun
informasi, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan,
mereorganisakn bahan dan membuat kesimpulan. Melalui kegiatan tersebut, siswa
akan menguasainya, menerapkannya, serta menemukan hal yang bermanfaat bagi
dirinya.
2.
Rote Learning- Meaningful Learning
Dalam Rote Learning, bahan ajar disampaikan kepada siswa
tanpa memperhatikan arti atau maknanya bagi siswa. Siswa menguasai bahan ajar
dengan menghafalnya. Dalam Meaningful Learning, penyampaian bahan mengutamakan
maknanya bagi siswa. Menurut Ausubel dan Robinson, suatu bahan ajar bermakna
bila dihubungkan dengan struktural kognitif yang ada pada siswa.
3.
Group Learning – Individual Learning
Pelaksanaan Discovery Learning, menuntut aktifitas belajar
yang bersifat individual atau dalam kelompok kecil. Discovery Learning dalam
bentuk kelas, pelaksanaannya agak sukar dan mempunyai beberapa masalah.
Masalah-masalah tersebut yaitu karena kemampuan dan kecepatan belajar siswa
tidak sama, sehingga hanya dapat dilakukan oleh siswa yang pandai. Kerjasama
hanya akan dilakuakan oleh anak yang aktif, sedangkan anak yang lain mungkin
hanya akan menonton. Dengan demikian akan timbul perbedaan yang sangat jauh
antara anak yang pandai dan yang kurang.
4.
MEDIA PENGAJARAN
Media mengajar merupakan segala macam bentuk perngasang dan
alat yang disediakan guru untuk mendorong siswa belajar.
Rowntree,
mengelompokan media mengajar menjadi lima macam, yaitu :
1.
Interaksi Insani
Media ini merupakan komunikasi langsung antara dua orang
atau lebih. Dalam komunikasi tersebut, kehadiran guru mempengaruhi perilaku
siswa atau siswa-siswanya. Interaksi insani dapat berlangsung melalui
komunikasi verbal atau nonverbal.komunikasi verbal memegang pernanan penting,
terutama dalam perkembangan segi kognitif siswa. Untuk pengembangan segi
afektif, komunikasi nonverbal seperti : perilaku, penampilan fisik, gerak, dan
sikap memegang peranan penting sebagai contoh nyata.
2.
Realita
Realita merupakan bentuk perngasang nyata seperti ornag,
benda, dan peristiwa yang diamati siswa. Dalam realita, kesemuaan tersebut
berfungsi sebagai objek pengamatan studi siswa.
3.
Pictorial
Media ini menyajikan berbagai bentuk variasi gambar dan
diagram nyata ataupun simbol, bergerak atau tidak, dibuat diatas kertas, film,
kaset dan media lainnya. Media pictorial memiliki keuntungan karena semua
bentuk ukuran, kecepatan, benda, makhluk dan peristiwa dapat disajikan dalam
media ini.
4.
Simbol Tertulis
Merupakan media penyajian informasi paling umum, tetapi
efektif. Ada beberpa macam bentuk media simbol, seperti buku teks, buku paket,
modul dan majalah. Media ini biasnya dilengkapi dengan media pictorial.
5.
Rekaman Suara
Berbagai bentuk informasi dapat disajikan kepada anak dalam
bentuk rekaman suara, sehinga mempermudah guru dalam menyampaikan materi
belajar.
Dale mengemukakan 12 macam media
mengajar atau audia visual aid, yang disebutnya Cone Of Experience atau kerucut
pengalaman, yaitu :
![]() |
Verbal Symbol
Visual
Symbol
Sign ,
stick figures
Radio and
Recording
Still
Pictures
Educational
Television
Exhibits
Study
Trips
Demonstration
Dramatized
experiene
Contrived
experience
Direct Purposeful
Gagne mengemukakan lima macam
perangsang belajar disertai alat-alat untuk menyajikannya, yaitu :
|
Perangsang
|
Alat
|
|
Kata kata tertulis
Kata-kata lisan
Gambar dan kata-kata lisan
Gambar bergerak, kata dan suara
lain.
Konsep teoritis gambar
|
Buku, pengajaran berprogram,
bagan, proyektor slide, poster, checklist.
Guru, tape recording
Slide tapes, slide bersuara,
ceramah dan poster.
Proyektor film bergerak, televisi,
demonstrasi
Film bergerak, permainan
boneka/wayang.
|
5.
EVALUASI PENGAJARAN
Komponen utama selanjutnnya setelah rumusan tujuan, bahan
ajar, strategi mengajar, dan media menngajar adalah evaluasi dan penyempurnaan.
Evaluasi ditujukan untuk menilai pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan
serta menilai proses pelaksanaan mengajar secara keseluruhan . Tiap kegiatan
akan memberiakn umpan balik, demikian juga dalam pencapaian tujuan-tujuan
belajar dan proses pelaksanaan mengajar. Umpan balik tersebut digunakan untuk
mengadakan berbagai usaha penyempurnaan baik bagi penentuan dan perumusan
tujuan mengajar, penentuan sekuens bahan ajar, strategi, dan media mengajar.
a. Evaluasi hasil belajar-mengajar
Untuk menilai keberhasilan penguasaan siswa atau
tujuan-tujuan khusus yang telah di tentukan, diadakan suatu evaluasi . Evaluasi
ini disebut juga evaluasi hasil belajar-mengajar. Dalam evaluasi ini
disusun butir-butir soal untuk mengukur pencapaian tiap tujuan khusus
yang telah di tentukan. Untuk riap tujuan khusus minimal disusun satu butir
soal. Menurut lingkup luas bahan dan jangka waktu belajar dibedakan antara
evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
Evaluasi
formatif ditujukan untuk menilai penguasaan siswa terhadap tujuan-tujuan
belajar dalam jangka waktu yang relatif pendek. Tujuan utama dari evaluasi
formatif sebenarnya lebih besar ditujukan untuk menilai proses pengajaran.
Dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah evaluasi formatif digunakan untuk
menilai penguasaan siswa setelah selesai mempelajari satu pokok bahasan. Hasil
evaluasi formatif ini terutama digunakan untuk memperbaiki proses
belajar-mengajar dan membantu mengatasi kesulitan-kesulitanbelajar siswa.
Dengan demikian evaluasi formatif, selain berfungsi menilai proses, juga
merupakan evaluasi atau tes diagnostik. Grondlund (1976:489) mengnemukakan
fungsi tes formatif sebagai berikut :
1. To plan corrective action for
overcoming learning deficiences,
2. To aid in motivating learning,
3. To increase retention and tarnsfer or learning.
Evaluasi sumatif ditunjukan untuk menilai penguasaan siswa
terhadap tujuan-tujuan yang lebih luas, sebagai hasil usaha belajar dalam
jangka waktu yang cukup lama, satu semester, satu tahun atau selama jenjang
pendidikan. Evaluasi sumatif mempunyai fungsi yang lebih luas daripada evaluasi
formatif. Dalam kurikulum pendidkan dasar dan menengah, evaluasi sumatif
dimaksudkan untuk menilai kemajuan belajar siswa (kenaikan kelas, kelulusan
ujian) serta menilai efektifitas program secara menyeluruh. Ini sesuai dengan
pendapat Grondlund (1976:499) bahwa evaluaasi sumatif berguna bagi :
1. Assigning grades,
2. Reporting learning progress to parents, pupils, and school personnel,
3. Improving learning and intruction
Untuk mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap
tujuan-tujuan yang telah ditentukan atau bahan yang telah di ajarkan ada dua
macam norma yang digunakan yaitu norm
refrenced dan criterion refrenced (Chauhan, 1979:170-171, Gronlound,
1976:18-19, Thorndike, 1976:654). Dalam criterion
refrenced penguasaan siswa yang diukur dengan sesuatu tes hasil
belajar dibandingkan dengan sesuatu kriteria tertentu umpamanya 80% dari tujuan
atau bahan yang diberikan. Dengan demikian dalam criterion refrenced ada suatu kriteria standar. Dalam norm referenced, tidak ada suatu kriteria
standar, penguasaan siswa dibandingkan dengan tingkat penguasaan kawan-kawanya
satu kelompok. Dengan demikian norma yang digunakan adalah norma kelompok, yang
lebih bersifat relatif. Kelompok ini dapat berupa kelompok kelas,
sekolah, daerah, ataupun nasional. Dalam implementasi kurikulum atau
pelaksanaan pengajaran, criterion
referenced digunakan pada evaluasi formatif, sedangkan norm referenced digunakan pada evaluasi sumatif.
b. Evaluasi pelaksasanaan mengajar
Komponen yang dievaluasi dalam pengajaran bukan hanya hasil
belajar-mengajar tetapi keseluruhan pelaksanaan pengajaran, yang meliputi
evaluasi komponen tujuan mengajar, bahan pengajaran (yang menyangkut sekuens
bahan ajar), strategi dan media pengajaran, serta komponen evaluasi mengajar
sendiri.
Stufflebeam dan kawan-kawan (1977:243) mengutip Model
Evaluasi dari EPIC, bahwa dalam program mengajar komponen-komponen yang
dievaluasi meliputi: komponen tingkah laku yang mencakup
aspek-asoek(subkomponen) : kognitif,
afektif, dan psikomotor; komponen mengajar mencakup subkomponen : isi, metode, organisasi, fasilitas dan
biaya; dan komponen populasi, yang mencakup : siswa, guru, adminisator, soesialis,
pendidikan, keluarga dan masyarakat. Untuk
mengevaluasi komponen-komponen dan proses pelaksanaan mengajar bukan
hanya digunakan tes tetapi juga digunakan nontes, seperti observasi ,
studi dokumenter, analisis hasil pekerjaan, angket dan checklist. Evaluasi dapat dilakukan oleh guru atau oleh pihak-pihak
lain yang berwenang atau diberi tugas seperti , kepala sekolah dan pengawas,
tim evaluasi kanwil atau pusat. Sesuai dengan prinsip sistem, evaluasi dan
umpan balik diadakan secara terus menerus, walaupun tidak semua komponen
mendapat evaluasi yang sama kedalaman dan keluasannya. Karena sifatnya
menyeluruh dan terus menerus tersebut maka evaluasi pelaksanaan sistem mengajar
dapt dipandang sebagai suatu monitoring.
6.
PENYEMPURNAAN PENGAJARAN
Hasil-hasil evaluasi, baik evaluasi
hasil belajar, maupun evaluasi pelaksanaan mengajar secara keseluruhan,
merupakan umpan balik bagi penyempurnaan-penyempurnaan lebih lanjut. Komponen
apa yang disempurnakan, dan bagaimana penyempurnaan tersebut dilaksanakan?.
Sesuai dengan komponen-komponen yang di evaluasi, pada dasarnya semua semua
komponen-komponen yang dievaluasi, pada dasarnya semua komponen mengajar
mempunyai kemungkinan untuk disempurnakan. Suatu komponen mendapatkan prioritas
lebih dulu atau mendapatkan penyempurnaan lebih banyak, dilihat dari perannya
dan tingkat kelemahannya (Rowntree, 1974:150-151). Penyempurnaan juga mungkin
dilakukan secara langsung begitu didapatkan sesuatu informasi umpan balik, atau
ditangguhkan sampai jangka waktu tertentu tergantung pada urgensinya dan
kemungkinan mengadakan penyempurnaan. Penyempurnaan mungkin dilaksanakan
sendiri oleh guru, tetapi dalam hal-hal tertentu mungkin dibutuhkan bantuan
atau saran-saran orang lain baik sesama personalia sekolah atau ahli pendidikan
dari luar sekolah. Penyempurnaan juga mungkin bersifat menyeluruh atau hanya
menyangkut bagian-bagian tertentu. Semua hal tersebut beergantung pada
kesimpulan-kesimpulan hasil evaluasi.
B. Desain Kurikulum
Desain kurikulum mennyangkut pola pengorganisasian
unsur-unsur atau komponen kurikulum . Penyusunan desain kurikulum dapat
dilihat dari dua dimensi, yaitu dimensi horisontal dan vertikal. Dimensi
horisontal berkenaan dengan penyusunan dari lingkup isi kurikulum. Susunan
lingkup ini sering diintegrasikan dengan proses belajar dan mengajarnya.
Dimensi vertikal menyangkut penyusunan sekuens bahan berdasrkan urutan tingkat
kesukaran. Bahantersusun mulai dari yang mudah, kemudian menuju pada yang lebih
sulit, atau mulai dengan yang dasar diteruskan dengan yang lanjutan.
Berdasrkan pada apa yang menjadi fokus pengajaran ,
sekurang-kurangnya dikenal tiga pola desain kurikulum, yaitu :
1.
Subject centered design, suatu
desain kurikulum yang berpusat pada bahan ajar.
2. Learner centered design, suatu desain kurikulum yang
mengutamakan peranan siswa.
3. Probelms centered design, desain kurikulum yang berpusat
pada masalah-masalah yang dihadapi dalam masyarkat.
Walaupun bertolak dari hal yang sama, dalam suatu pola
desain terdapat beberapa variasi desain kurikulum. Dalam Subject centered design dikenal ada : the subject design, thee disciplinies
design, dan the broad fields design. Pada
probelms centered design dikenal
pula : the areas of living design dan
the core design.
1. Subject Centered Design
Subject centered design curiculum merupakan bentuk desain yang paling
populer, paling tua dan paling banyak digunakan. Dalam subject centered design, kurikulum dipusatkan pada is atau
materi yang akan diajarkan. Kurikulum tersusun atas sejumlah mata-mata
pelajaran, dan mata-matapelajaran tersebut diajarkan secara terpisah-pisah.
Karena terpisah-pisahnya itu maka kurikulum ini disebut juga separated subject curiculum.
Subject cebtered design berkembang dari konsep
pendidikan klasik yang menenkankan pengetahuan, nilai-nilai dan warisan budaya
masa lalu, dan beruaya untuk mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Karena mengutamakan isi atau bahan ajar atau subject matter tersebut, maka desain kurikulum ini disebut
juga subject academic curriculum.
Model design
curriculum ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Beberapa
kelebihan dari model ini adalah:
1.
mudah disusun, dilaksanakan, dievaluasi, dan disempurnakan
2.
para pengajarnya tidak perlu dipersiapkan khusus, asal menguasai ilmu atau
bahan yang akan diajarkan sering dipandang sudah dapat menyampaikannya.
Beberapa kritik yang juga merupakan kekurangan model desain
ini adalah
1.
karena pengetahuan diberikan secara terpisah-pisah, hal itu bertentangan dengan
kenyataan, sebab adalam kenyataan pengetahuan itumerupakan suatu kesatuan,
2.
karena mengutamakan bahan ajar maka peran peserta didik sangat pasif
3pengajaran
lebih menekankan pengetahuan dan kehidupan masa lalu, dengan demikian
pengajaran lebih bersifat verbalitas dan kurang praktis.
Atas dasar tersebut, para pengkririk menyarankan perbaikan
ke arah yang lebih terintegrasi, praktis, dan bermakna serta memberikan
peranyang lebih aktif kepada siswa.
A. The Subject Design
The Subject Curiculum merupakan bentuk desain yang
paling murni dari subject
centered design. Materi pelajaran disajikan secara terpisah-pisah dalam
bentuk mata-mata pelajaran. Model desain ini telah ada sejak lama. Orang-orang
Yunani kemudian Romaawimengembangkan Trivium dan Quadrivium. Trivium meliputi
gramatika, logika, dan retorika, sedangkan Quadrivium meliputi matematiks,
geometri, astonomi, dan musik. Paada saat itu pendidikan tidak diarahkan
pada mencari nafkah, tapi oada pembentuakan pribadi dan status sosial (Liberal Art). Pendidikan hanya di
peruntukan bagi anak-anak golongan bangsawan yang tidak usah bekerja mencari
nafkah.
Pada abad 19 pendidikan tidak lagi diarahkan pada pendidikan
umum (liberal art) tetapi p[ada
pendidikan yang lebih bersifat praktis., berkenaandengan mata pencaharian
(pendidikan vokasional). Pada saat itu mulai berkembang mata-mata pelajaran
fisika, kimia, biologi, bahasa yang masih bersifat teoritis, juga
berkembang mata-mata pelajaran praktid seperti pertanian, ekonomi, tata
buku, kesejahteraan keluarga, keterampilan dan lain-lain. Isi pelajaran di
ambil dari pengetahuan, dan nilai-nilai yang telah ditemukan oleh ahli-ahli
sebelumnya. Para siswa di tuntut untuk menguasai semua pengetahuan yang
diberikan, apakah mereka menyenangi atau tidak, membutuhkannya atau tidak.
Karena pelajaran-pelajaran diberikan secara terpisah-pisah, maka siswa
menguasainya pun terpisah-pisah pula. Tidak jarang siswa menguasai bahan hanya
pada tahap hafalan, bahkan dikuasai secar verbalitas.
Lebih rinci kelemahan-kelemahan bentuk kurikulum ini adalah
:
1.
kurikulum memberikan pengetahuan terpisah-pisah, satu terlepas dari yang
lainnya.
2.
isi kurikulum diambil dari masa lalu, terlepas dari kejadian-kejadian yang
hangat, yang sedang berlangsung saat sekarang.
3.
Kurikulum ini kurang memperhatiakan minat, kebuutuhan dan pengalaman peserta
didik
4.
isi kurikulum disusun berdasarkan sistematika ilmu sering menimbulkan kesukaran
di dalam mempelajari dan menggunakannya
5.
kurikulum lebih mengutamakan isi dan kurang memperhatiakn cara penyampaian.
Cara penyampaian utama adalah ekspositori yang menyebabkan peran siswa pasif.
Meskipun ada kelemahan-kelemahan di atas, bentuk desain
kurikulum ini mempunyai beberapa kelebhankarena kelebihan-kelebihan
tersebut bentuk kurikulum ini lebih banyak dipakai.
1
karena materi pelajaran diambil dari ilmu yang sudah tersusun secara
sitematis logis, maka penyusunnya cukup mudah.
2.
bentuk ini sudah di kenal sejak lama, baik oleh guru-guru maupun orang tua,
sehingga lebih mudah untuk dilaksanakan.
3.
Bentuk ini memudahkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan di perguruan
tinggi, sebab pada perguruan tinggi umumnya menggunakan bentuk ini
4.
Bentuk ini dapat dilaksanakan secara efisien, karena metode utamanya adalah
metode ekspositori yang dikenal tingkat efisiennya cukup tinggi
5.
Bentuk ini sagat ampuh sebagai alat untuk melestarikan dan mewariskan warisan
budaya masa lalu.
Dengan adanya kelemahan-kelemahan di atas pengembang
kurikulum subject design tidak
tinggal diam, mereka berusaha untuk memperbaikinya. Dalam rumpun subject centered, the broad field
designmerupakan pengembangan dari bentuk ini. Begitu juga pengembangan bentuk-bentuk lain di
luar subject centered, the broad field
design, areas of living design dan
core design.
B. The Disciplines Design
Bentuk ini merupakan pengembangan dari subject design keduanya masih menekankan kepada isi materi
kurikulum. Walaupun bertolak belakang dari hal yang sama tetapi antara keduanya
terdapat perbedaan. Pada subject
design belum ada kriteria yang tegas tentang apa yang disebut subject (ilmu). Belum ada
perbedaan antara matematika, psikologi dengan teknik atau cara mengemudi,
semuanya disebut subject. Pada disciplines design kriteria tersebut
telah tegas, yang membedakan apakah suatu pengetahuan itu ilmu atau subject dan bukan adalah batang tubuh ke
ilmuannya. Batang tubuh keilmuan menentukan apakah suatu bahan pelajaran itu
disiplin ilmu atau bukan, Untuk menegaskan hal itu mereka menggunakan istilah
disiplin.
Isi kurikulum yang diberikan di sekolah adalah
dusiplin-disiplin ilmu. Menurut pandangan ini sekolah adalah mikrokosmos dari
dunia intelek, batu pertama dari hal itu adalah isi dari kurikulum. Para
pengembang kurikulum dari aliran ini berpegang teguh pada
disiplin-disiplin ilmu seperti : fisika, biologi, psikologi, sosiologi dan
sebagainya.
Perbedaan lain adalah dalam tingkat penguasaan, disciplines design tidak
seperti subject design yang
menekankan penguasaab fakta-fakta dan informasi tetapi pada pemahaman (understing). Para peserta didik didorong
untuk memahami logika atau struktur dasar suatu disiplin, memahami
konsep-konsep, ide-ide dan prinsip-prinsip penting juga didorong untuk memahami
cara mencari dan menemukannya (modes of
inquiry and discovery). Hanya dengan meguasai hal-hal itu, kata mereka,
peserta didik akan memahami masalah dan mampu melihat hubungan berbagai
fenomena baru.
Proses belajarnya tidak lagi menggunakan pendekatan
ekspositori yang menyebabkan peserta didik lebih banyak pasif, tetapi
menggunakan pendekatan inkuiri dan diskaveri. Disciplines design sudah
menintegrasikan unsur-unsur progersifisme dari Dewey. Bentuk ini memiliki
beberapa kelebihan dibandingkan dengan subject
design. Pertama, kurikulum ini bukan hanya memiliki organisasi yang
sistematik dan efektif tetapi juga dapat memelihara integritas intelektual
pengetahuan manusia. Kedua, peserta didik tidak hanya menguasai serentetan
fakta, prinsip hasil hafalan tetapi menguasai konsep, hubungan dan
proses-proses intelektual yang berkembang pada siswa.
Meskipun telah menunjukan beberapa kelebihan bentuk, desain
ini maasih memiliki beberapa kelemahan. Pertama, belum dapat memberikan
pengetahuan yang berintegrasi. Kedua, belum mampu mengintegrasikan sekolah
dengan masyarakat atau kehidupan. Ketiga, belum bertolak dari minat dan
kebutuhan atau pengalaman peserta didik. Keempat, susunan kurikulum belum
efisien baik untuk kegiatan belajar maupun untuk penggunaannya. Kelima,
meskipun sudah lebih luas dibandingkan dengan subject design tetapi secara akademis dan intelektual masih
cukup sempit.
C. The Broad Fields Design
Baik subject design maupun
disciplines design masih
menunjukan adanya pemisahan antar mata pelajaran. Salah satu usaha untuk
menghilangkan pemisahan tersebut adalah mengembangkan The broad field design. Dalam model ini mereka menyatukan beberapa
mata pelajaran yang berdekatan atau berhubungan menjadi satu bidang studi
seperti sejarah, Geografi, dan Ekonomi digabung menjadi ilmu Pengetahuan
sosial, Aljabbar, Ilmu ukur, dan Berhitung menjadi matematika, dan sebagainya.
Tujuan pengembangan kurikulum broad field adalah menyiapakan para siswa yang dewasa ini hidup
dalam dunia informasi yang sifatnya spesialistis, dengan pemahaman yang
bersifat menyeluruh. Bentuk kurikulum ini banyak digunakan di sekolah menengah
pertama, di sekolah menengah atas penggunaannya agak terbatas apalagi di
perguruan tinggi sedikit sekali.
Ada dua kelebihan penggunaan kurikulum ini. Pertama, karena
dasarnya bahan yang terpisah-pisah, walaupun sudah terjadi penyatuan beberapa
mata kuliah masih memungkinkan penyusunan warisan-warisan budaya secara
sistematis dan teratur. Kedua, karena mengintegrasikan beberapa mata kuliah
memungkinkan peserta didik melihat hubungan antara beberapa hal.
Di samping kelebihan tersebut, ada beberapa kelemahan model
kurikulum ini. Pertama, kemampuan guru, untuk tingkat sekolah dasar guru mampu
menguasai bidang yang luas, tetapi untuk tingkat yang lebih tinggi, apalagi di
perguruan tinggi sukar sekali. Kedua, karena bidang yang dipelajari itu luas,
maka tidak dapat diberikan secara mendetail, yang diajarkan hanya permukaannya
saja. Ketiga, pengintegrasian bahan ajar terbatas sekali,tidak menggambarkan
kenyataan, tidak memberikan pengalaman yang sesungguhnya bagi siswa, dengan
demikian kurang membangkitkan minat belajar. Keempat, meskipun kadarnya lebih
rendah di bandingkan dengan subject
design, tetapi model ini tetap menekankan proses pencapaian tujuan
yang sifatnya afektif dan kognitif tingkat tinggi.
2. Learner-centered design
Sebagai reaksi ssekaligus penyempurnaan terhadap beberapa
kelemahan subject centered design berkembang learner centered design. Desai ini
berbeda dengan subject centered,
yang bertolak dari cita-cita untuk melestarikan dan mewariskan budaya,
dan karena itu mereka mengutamakan peranan isi dari kurikulum.
Learner centered, memberi tempat utama kepada peserta
didik. Di dalam pendidikan atau pengajaran yang belajar dan berkembang
adalah peserta didik sendiri. Guru atau pendidik hanya berperan menciptakan
situasi belajar-mengajar, mendorong dan memberikan bimbingan sesuai
dengan kebutuhan peserta didik.
a.
The Activity atau Experience Design
Model desain berawal pada abad ke 18, atas hasil karya
dari rousseau dan Pestalozzi, yang berkembang pesat pada tahun 1920/1930an pada
masa kejayaan pendidikan progresif.
Beberapa ciri utama activity atau experience design:
Pertama,struktur kurikulum ditentukan oleh kebutuhan
danminat pesertadidik. Dalam implementasinya guru hendaknya:
a)
Menemukan minat dan kebutuhanpeserta didik,
b)
Membantu para siswa memilih mana yang paling penting dan urgen .
Kedua, karena struktur kurikulum didasarkan atas minat dan
kebutuhan peserta didik, maka kurikulum tidak dapat di susun jadi sebelumnya,
tetapi disusun bersama oleh siswa.
Ketiga, Desain kurikulum menekankan prosedur pemecahan
masalah, maksudnya dalam pembelajaran tentu akan di dapatkan masalah dan dalam
activity design perlu mempunyai cara memecahkan masalah tersebut,.
Beberapa kelebihan dari design kurikulum :
Pertama, karena program pendidikan berasal dari peserta
didik,maka tidak banyak mengalami kesulitan merangsang peserta didik dalam
motivasi belajar.
Kedua, pengajaran memperhatikan individual,meskipun di
bentuk kelompok sekalipun karena mereka juga harus berperan aktif dalm
kelompok.
Ketiga, kegiatan- kegiatan pemecahan masalah memberikan
bekal kecakapan dan pengetahuan untuk menghadapi kehidupan di luar sekolah.
Kritik
untuk kurikulum ini:
Pertama, perbedaan pada minat dan kebutuhan peserta didik
yang kerap terjadi.
Kedua, kurikulumtidakmempunyai polakarena sumber pemikiran
berasaldari peserta didik.
Ketiga, activity design curriculum sangat lemah dalam
kontinuitas dan sekuens. Dasar minat peserta didik tidak memberikan landasan
yang kuat.
Keempat, kurikulum ini tidak dapat dilakukan oleh guru biasa
karena membutuhkan ahli general education plus ahli psikologi perkembangan fan
human relation.
3. PROBLEM CENTERED DESIGN
Problem centered design berpangkal pada filsafat yang
mengutamakan peranan manusia (man centered). Problem centered desain menekankan
manusia dalam kesatuan kelompok yaitu kesejahteraan masyarakat. Problem
cebtered design menekankan pada isi maupun perkembangan peserta didik. Minimal
ada dua variasi model desain kurikulum ini, yaitu the areas of living design,
dan The core design.
a.
The Area of Living Design
Dalam prosedur belajar ini tujuan yang bersifat proses
(process objectives) dan yang bersifat isi (content objectivies)
diintegrasikan. Penguasaan informasi- unformasi yang bersifat pasiftetap
dirangsang. Cirri lai yaiti menggunakan pengalaman dan situasi – situasi dari
peserta didik sebagai pembuka jalan dalam mempelajari bidang-bidang
kehidupan.
Dalam the areas of living hubungannya dengan bidang-bidang
kehidupan sehingga dapat dikatakan suatu desain bidang-bidang kehidupan yang
dirumuskan dengan baikakan merangkumkan pengalaman-pengalaman peserta didik.
Desain ini mempunyai beberapa kebaikan diantanya:
Petrama, the areas of living desaign merupakan the subject
matter design tetapi dalam bentuk yang terintegrasi. Pemisahan antara subject
dihilangkan oleh problema- problema kehidupan sosial.
Kedua, karena kurikulum diorganisasikan di sekitar
problema- problema peserta didik maka kurikulum ini menggunakan prosedur
pemecahan masalah.
Ketiga, menyajikan bhan ajar yang relevan, untuk memecahkan
masalah-masalah dalam kehidupan.
Keempat, menyajikan bahan ajar dalam bentuk yyang
professional.
Kelima, motivasi berasal dari peserta didik.
Beberapa
kritikan tentang desain ini:
Pertama,
penentuan lingkup dan sekuens dari bidang-bidang kehidupan yang sngat esensial
sangat sukar.
Kedua,
lemahnya integrasi kurikulum
Ketiga,
desain inio megabaikan warisan budaya.
Keempat,
para peserta didik memandang masalah untuk sekarng dan masa depan dan
mengabaikan masa lalu.
Kelima.
Guru, buku dan media lain tidak banyak disiapkan untuk model ini sehingga mengalami
kesulitan.
- The Core Design
The cores design timbul sebagai reaksi utama kepada separate
subject design, yang sifatnya terpisah-pisah. Dalam mengintegrasikan bahan ajar
, mereka memilih mta mata pelajaran tertentu sebagai inti (core). Pelajaran lainnya
dikembangkan kan disekitar core tersebut. Menurut konsep ini inti-initi bahn
ajar dipusatkan pada kebutuhan individual dan sosial. The core design biasa
juga disebut the core curriculum.
Variasi
dalam the core curriculum
- the sparate subject core
- the correlated core
- the fused core
- the activity/ experience core
- the areas of living core
- the social problem core
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Makalah yang berjudul Anatomi dan Desain Kurikulum ini
mendeskripsikan secara terperinci tentang komponen yang harus ada pada setiap
kurikulum serta desain kurikulum yang dapat digunankan untuk proses
pembelajaran. Wacana tersebut menyebutkan bahwa dalam kurikulum itu terdapat
beberapa komponen, diantaranya adalah tujuan kurikulum, bahan ajar atau materi
atau isi dari kurikulum tersebut, strategi mengajar atau metode mengajar, media
mengajar dan evaluasi pengajaran serta penyempurnaan pengajaran. Komponen-komponen
tersebut saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Setiap komponen mempunyai
isi yang sangat penting sekali bagi kelangsungan kurikulum.
Desain kurikulum merupakan rencana pembelajran yang harus
dilaksanakan oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Desain kurikulum
yang dapat digunakan diantaranya adalah subject centered design, learned
centered design, problem centered design. Setiap design kurikukum memberikan
teknik atau cara yang efektif dalam proses pembelajaran agar berjalan dengan efektif
dan efisien. Tetapi tidak setian design kurikulum dapat dijadikan sebagai salah
satu pedoman dalam melakukan proses pembelajaran. Jadi setiap design kurikulum
memiliki kelebihan dan kekurangan dalam pelaksanannya.
DAFTAR PUSTAKA
Anatomi dan Desain Kurikulum
Makalah Konsep Pengembangan
Kurikulum
http://faizhijauhitam.blogspot.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar